0

MEDIA SPECTACLE GUY DEBORD

Posted by made adnyani on Mei 12, 2012 in Sosiologi Media

 

Tulisan kali ini mencoba untuk menerjemahkan mengenai Media Spectacle karangan Douglass kellner. Dalam buku ini Douglass kellner mencoba menggambarkan bagaimana Politik Pemilihan Presiden di Amerika Serikat, dan yang menjadi contoh kasus adalah Pemilihan Presiden Obama yang menjadi Media Tontonan tidak hanya di Amerika serikat tetapi juga di seluruh dunia bahkan di Indonesia karena Obama pernah tinggal di Indonesia. Bagaimana media tontonan dalam pemilihan presiden digambarkan dengan analisis Media spectacle dari Guy Debord oleh Douglass kellner dengan sangat menarik. Apa yang saya posting ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan tulisan Douglas Kellner, untuk lebih detilnya bisa dibaca dari bukunya, karena saya hanya mempostingkan pengantarnya saja….. Mudah2an yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk menambah referensi.
MEDIA TONTONAN, POLITIK PRESIDENSIAL,
DAN TRANSFORMASI JURNALISME
oleh DOUGLAS KELLNER
     Mainstream korporasi media saat ini  ini di AS semakin menumbuhkan proses peristiwa, berita, dan informasi dalam bentuk media tontonan  (lihat Kellner 2001; 2003a, 2003b, 2005, 2008). Dalam arena dari kompetisi yang semakin intensif dengan 24/7 jaringan TV kabel, radio talk, internet dan blog dan berkembangnya media baru seperti Facebook, My space, Twitter dan You Tube, persaingan lebih intens lagi dalam memimpin  perusahaan media  untuk masuk ke cerita sensasional tabloidized yang mereka  konstruksikan dalam bentuk media  tontonan yang berusaha menarik audience secara maksimal sebanyak mungkin , hingga tontonan berikutnya muncul.
     Dengan tontonan, ini berarti media mengkonstruksi sesuatu di luar kebiasaan dan kebiasaan rutin sehari-hari menjadi media tontonan khusus. Mereka melibatkan dimensi estetik dan kadang-kadang dramatis, terikat dengan kompetisi seperti Olimpiade atau Oscar. Media tontonan mengacu pada peristiwa-peristiwa yang dimediai secara teknologi, dimana bentuk media seperti broadcasting, media cetak atau proses peristiwa internet dalam bentuk spektakuler. Sebagai contoh peristiwa politik yang menjadi media tontonan meliputi sex Clinton dan skandal impeachment di akhir tahun 1990-an, kematian Putri Diana, 9/11 serangan terror, dan saat ini, krisis AS dan mungkin sistem keuangan global. Misalnya, tanggal 11 September 2001 serangan teroris pada the World Trade center dan  Pentagon menjadi media tontonan global yang mendominasi berita-berita dari hari ke hari. Selanjutnya, dengan  serangan teroris di London, Madrid, Bali, dan lain tempat di dunia, berita harian akan ditafsirkan dengan buletin “Breaking News” pada  serangan teroris yang kemudian akan mendominasi jurnalisme selama  berhari-hari.
     Douglas memulai teori media tontonan sebagai bentuk utama dari jurnalisme dalam media komersial saat ini didominasi oleh media korporat, dan kemudian mengilustrasikan teorinya dengan sebuah analisa dari kampanye Presiden tahun 2008. Argumennya adalah bahwa berita-berita dan informasi dalam situasi yang dikontrol oleh media korporat perkembangannya didominasi oleh bentuk-bentuk media tontonan yang mengubah kealamiahan jurnalisme di era yang semakin ditandai dengan gambar, sensasionalisme, dan tontonan.
Masyarakat Tontonan Guy Debord dan Media Tontonan:
Beberapa Perbedaan Konseptual
     Konsep dari “media tontonan” dikembangkan oleh teoritis Perancis Guy Debord (dalam bukunya Society of the Spectacle) dan kawannya dalam situasi internasional yang memiliki dampak besar pada bermacam-macam teori kontemporer dari masyarakat dan budaya. Gagasan dari media tontonan dibangun dari konsep Debord  masyarakat tontonan tetapi berbeda secara signifikan. Untuk Debord “tontonan” merupakan konsep menyeluruh untuk menggambarkan media dan masyarakat konsumen, termasuk kemasan, promosi, dan menampilkan komoditas dan produksi dan efek dari semua media.  Menggunakan istilah “media tontonan,” Douglass sangat berfokus pada berbagai bentuk teknologi yang dibangun media produksi yang diproduksi dan  disebarkan melalui massa yang disebut media, mulai dari radio dan televisi ke internet nirkabel dan gadget terbaru.
     Lebih jauh, sementara Debord menyajikan gagasan yang agak umum dan abstrak dari tontonan, Douglass melibatkan contoh spesifik dari tontonan media dan bagaimana mereka diproduksi, dibangun, diedarkan, dan fungsinya dalam era sekarang. Douglass juga berargumentasi bahwa media tontonan adalah kolonisasi berita dan informasi, terutama pada  jaringan berita kabel, tetapi juga semakin berkembang di media cetak dan internet, khususnya  bentuk komersial yang dikendalikan oleh media korporat. Dia juga berargumentasi bahwa media tontonan menjadi bentuk dari kontes politik, khususnya di AS, tetapi berkembang secara global dengan baik. Sehingga, berbeda dengan pandangan Debord pada monolithic tontonan yang merupakan media dan masyarakat konsumen secara keseluruhan dan dengan demikian adalah agen ampuh untuk kapitalisme, Douglass melihat tontonan sebagai rebutan dan memiliki pengertian kebalikan dari tontonan. Dalam konsepsi Douglass, tontonan adalah daerah yang diperebutkan di mana kekuatan yang berbeda menggunakan tontonan untuk mendorong minat mereka (kellner 2003a, 2003b, 2005, 2008).
     Memang, politik dan jurnalisme semakin dimediasi oleh  media tontonan. Konflik  politik, kampanye, dan yang menarik perhatian kejadian yang kita sebut “Berita” semuanya telah tunduk pada logika tontonan dan tabloidization di era sensasionalisme  media, skandal infotainment, politik dan kontestasi, seperti perang budaya yang tak berujung, fenomena yang sedang  berlangsung dari Perang Teror, dan sekarang muncul era tontonan Obama.
     Media tontonan adalah menjadi bentuk dalam berita-berita, informasi dan peristiwa-peristiwa dari era yang diproses oleh media korporat, negara dan kelompok politik dan institusi dan individu-individu yang memiliki kekukatan untuk mengkonstruksi realitas politik dan sosial. Dalam era awal broadcasting, peristiwa-peristiwa media adalah bentuk utama dalam media dan negara dikonstruksikan secara signifikan ritual social yang mereproduksikan masyarakat yang ada. Peristiwa media cenderung biasa, terpisah, jangka pendek dan relative bisa diduga (Dayan dan Katz 1992). Dalam era awal TV, seperti argumentasi Lang dan Lang (1992 [1984], peristiwa media menjadi penanda utama dan menyusun realitas politik dan social dari hari, meskipun seperti Boorstin (1961) memperingatkan, mereka juga dapat mengkonstruksikan pseudo-events/ peristiwa-samaran/pura-pura.
Media tontonan, di sisi lain, lebih membingungkan, penuh variasi, tidak dapat diprediksi dan penuh dengan kontes. Media tontonan mendorong bentuk dominan dari mendefinisikan dan memperlombakan keadaan sosial dan realita sosial selama era kabel dan TV satelit dan peristiwa metafisikal dari internet, yang merubah segalanya. Dimana peristiwa media cenderung nasional,  media tontonan kadang-kadang global. Pada apa yang Mc Luhan (1964) lihat sebagai “global Village”, network dan kabel dunia mengalami kejadian yang sama secara simultan dan secara real time selama September 2008, ketika seluruh dunia  menderita karena keracunan susu Cina dan kemudian krisis lembaga keuangan, yang mengancam ekonomi global, atau 28 November serangan terror di Mumbai
       Media tontonan diatur oleh negara dalam kasus perang, pemerintahan, atau pemilihan umum politik, sementara perusahaan-perusahaan media harian  mengkonstruksikan  media tontonan yang keluar dari “berita aktual ” dan apa yang didefinisikan sebagai peristiwa utama dari hari. Perusahaan-perusahaan media ingin menghubungkan konsumen ke dalam cerita besar sehingga mereka akan stay tune, login, atau memperhatikan pada peristiwa besar yang semakin diatur sebagai media tontonan.

Konsep dari “media tontonan” dikembangkan oleh teoritis Perancis Guy Debord (dalam bukunya Society of the Spectacle) dan kawannya dalam situasi internasional yang memiliki dampak besar pada bermacam-macam teori kontemporer dari masyarakat dan budaya. Gagasan dari media tontonan dibangun dari konsep Debord  masyarakat tontonan tetapi berbeda secara signifikan. Untuk Debord “tontonan” merupakan konsep menyeluruh untuk menggambarkan media dan masyarakat konsumen, termasuk kemasan, promosi, dan menampilkan komoditas dan produksi dan efek dari semua media.  Menggunakan istilah “media tontonan,” Douglass sangat berfokus pada berbagai bentuk teknologi yang dibangun media produksi yang diproduksi dan  disebarkan melalui massa yang disebut media, mulai dari radio dan televisi ke internet nirkabel dan gadget terbaru.

Lebih jauh, sementara Debord menyajikan gagasan yang agak umum dan abstrak dari tontonan, Douglass melibatkan contoh spesifik dari tontonan media dan bagaimana mereka diproduksi, dibangun, diedarkan, dan fungsinya dalam era sekarang. Douglass juga berargumentasi bahwa media tontonan adalah kolonisasi berita dan informasi, terutama pada  jaringan berita kabel, tetapi juga semakin berkembang di media cetak dan internet, khususnya  bentuk komersial yang dikendalikan oleh media korporat. Dia juga berargumentasi bahwa media tontonan menjadi bentuk dari kontes politik, khususnya di AS, tetapi berkembang secara global dengan baik. Sehingga, berbeda dengan pandangan Debord pada monolithic tontonan yang merupakan media dan masyarakat konsumen secara keseluruhan dan dengan demikian adalah agen ampuh untuk kapitalisme, Douglass melihat tontonan sebagai rebutan dan memiliki pengertian kebalikan dari tontonan. Dalam konsepsi Douglass, tontonan adalah daerah yang diperebutkan di mana kekuatan yang berbeda menggunakan tontonan untuk mendorong minat mereka (kellner 2003a, 2003b, 2005, 2008).Memang, politik dan jurnalisme semakin dimediasi oleh  media tontonan. Konflik  politik, kampanye, dan yang menarik perhatian kejadian yang kita sebut “Berita” semuanya telah tunduk pada logika tontonan dan tabloidization di era sensasionalisme  media, skandal infotainment, politik dan kontestasi, seperti perang budaya yang tak berujung, fenomena yang sedang  berlangsung dari Perang Teror, dan sekarang muncul era tontonan Obama.

Media tontonan adalah menjadi bentuk dalam berita-berita, informasi dan peristiwa-peristiwa dari era yang diproses oleh media korporat, negara dan kelompok politik dan institusi dan individu-individu yang memiliki kekukatan untuk mengkonstruksi realitas politik dan sosial. Dalam era awal broadcasting, peristiwa-peristiwa media adalah bentuk utama dalam media dan negara dikonstruksikan secara signifikan ritual social yang mereproduksikan masyarakat yang ada. Peristiwa media cenderung biasa, terpisah, jangka pendek dan relative bisa diduga (Dayan dan Katz 1992). Dalam era awal TV, seperti argumentasi Lang dan Lang (1992 [1984], peristiwa media menjadi penanda utama dan menyusun realitas politik dan social dari hari, meskipun seperti Boorstin (1961) memperingatkan, mereka juga dapat mengkonstruksikan pseudo-events/ peristiwa-samaran/pura-pura.

Media tontonan, di sisi lain, lebih membingungkan, penuh variasi, tidak dapat diprediksi dan penuh dengan kontes. Media tontonan mendorong bentuk dominan dari mendefinisikan dan memperlombakan keadaan sosial dan realita sosial selama era kabel dan TV satelit dan peristiwa metafisikal dari internet, yang merubah segalanya. Dimana peristiwa media cenderung nasional,  media tontonan kadang-kadang global. Pada apa yang Mc Luhan (1964) lihat sebagai “global Village”, network dan kabel dunia mengalami kejadian yang sama secara simultan dan secara real time selama September 2008, ketika seluruh dunia  menderita karena keracunan susu Cina dan kemudian krisis lembaga keuangan, yang mengancam ekonomi global, atau 28 November serangan terror di Mumbai.

Media tontonan diatur oleh negara dalam kasus perang, pemerintahan, atau pemilihan umum politik, sementara perusahaan-perusahaan media harian  mengkonstruksikan  media tontonan yang keluar dari “berita aktual ” dan apa yang didefinisikan sebagai peristiwa utama dari hari. Perusahaan-perusahaan media ingin menghubungkan konsumen ke dalam cerita besar sehingga mereka akan stay tune, login, atau menyimpan mata mereka dan perhatian pada peristiwa besar yang semakin diatur sebagai media tontonan.

 
0

STRUKTURASI

Posted by made adnyani on April 25, 2012 in Ekonomi Pollitik Komunikasi

Berbicara tentang strukturasi pasti akan mengingatkan kita dengan Anthony Giddens. Sedikit saya akan mencoba menguraikan mengenai Strukturasi dalam pandangan Giddens dari bukunya Vincent Mosco, seperti biasa kalau membahas tentang ekonomi politik pasti buku wajibnya adalah bukunya Mosco he…he…

Giddens memperkenalkan teori strukturasi sebagai usaha untuk menjembatani jurang antara perspektif teoritik struktur dengan tindakan dan agen. Giddens mengusulkan untuk mempertimbangkan struktur sebagai dualitas antara aturan (rules) dengan sumberdaya (resources). Strukturasi dijelaskan sebagai proses dimana struktur sosial merupakan hasil (outcome) dan sekaligus sebagai sarana (medium) praktek sosial.

Salah satu karakteristik penting dari teori strukturasi adalah keunggulannya dalam perubahan sosial. Dilihat sebagai proses yang menjelaskan bagaimana struktur diproduksi dan direproduksi oleh agen manusia yang bertindak sebagai medium dalam struktur ini.

Dalam Bab ini Mosco mengusulkan bagaimana teori strukturasi digabungkan dengan proses komodifikasi dan spasialisasi untuk membantu ekonomi politik komunikasi. Secara khusus, strukturasi menyeimbangkan antara kecenderungan dalam analisis ekonomi politik untuk menonjolkan struktur sebagai institusi bisnis dan pemerintah dengan menggabungkan ide dari agen, hubungan sosial, proses sosial dan praktek sosial.

Salah satu masalah utama dalam teori strukturasi Giddens adalah menekankan pada agen dengan membatasi konsep tentang struktur sebagai seperangkat operating rules dan store of resources yang mana agen individual menggunakannya untuk mempertemukan kebutuhan-kebutuhan mereka. Terdapat beberapa jenis operating rules, seperti dalam catatan Thompson, seperti : aturan moral, aturan tentang lalu lintas, aturan birokratis, aturan tentang tatabahasa, aturan tentang etiket, dll. Namun Giddens tidak memberikan repons yang memuaskan, tidak memberikan pengertian yang jelas tentang aturan sosial.

Penekanan pada agen menyarankan pendekatan strukturasi pada perluasan tentang konsep kekuasaaan dengan menguji bagaimana konsepsi tentang kekuasaan beroperasi menurut interaksi konstitusi atau pada kekuasaan pada level mikro. Agen merupakan konsepsi sosial yang mendasar yang mengacu pada individu  sebagai aktor sosial yang perilakunya menjadi dasar dari hubungan sosial dan positioning, termasuk tentang kelas, ras dan gender. Meski demikian, strukturasi lebih merujuk agen sebagai suatu fenomena sosial daripada sebagai aktor individual. Konsep ini mengacu pada pendapat Poulantzas yang mendefinisikan kembali aspek praktis aktor sosial, kapital dan terutama tenaga kerja sebagai subyek individu yang dihubungkan dengan hak individu, ekspresi individu dan praktek invividu pada voting hak politik serta pada hak konsumsi individu. Strukturasi merupakan titik awal untuk menguji konstitusi timbal balik antara struktur dan agen dalam ekonomi politik. Ini adalah titik awal untuk mengembangkan konsepsi tentang kekuasaan dan sebagai tambahan, untuk menyediakan pengungkit untuk memahami format hubunga sosial dalam ekonomi politik.

Bila ekonomi politik telah memberi perhatian pada agen, proses dan praktek sosial. Namun demikian ada dimensi lain strukturasi yang melengkapi dan ketidakserasian dengan analisis kelas, termasuk gender, ras dan gerakan sosial yang didasarkan pada isu-isu publik seperti environmentalism yang bersama-sama dengan kelas, sebagian besar merupakan mitra komunikasi sosial.

Dari penggunaan teori strukturasi, seseorang mungkin berpikir tentang masyarakat sebagai ensemble dari struktur tindakan yang dilakukan oleh agen dimana ada timbal balik bentuk kelas, gender, ras dan relasi gerakan sosial. Formulasi ini merupakan pintu masuk untuk menganalisis strukturasi dan bahwa bidang sosial tidak hanya sebuah kontinum dari denotasi subyektifitas oleh kategori yang bersifat nominal.

Proses dari konstruksi strukturasi hegemoni didefinisikan sebagai sesuatu yang diambil untuk diberikan, common sense, naturalisasi proses berpikir tentang dunia, termasuk mulai dari kosmologi, melalui etika, untuk praktek-praktek sosial, baik dalam incorporated dan contested dalam kehidupan sehari-hari. Hegemoni adalah jaringan yang dihidupkan dari makna dan nilai yang saling berhubungan.

Kelas sosial

Analisis kelas merupakan satu diantara banyak bidang dalam ilmu sosial. Definisi kelas sosial dapat dilihat dari dimensi kategorial, relational (relasi)  dan formasional. Dalam dimensi kategorial, kelas sosial  didefinisikan sebagai orang yang menempati posisi dalam masyarakat berdasarkan kekuatan ekonomi mereka yang dapat diukur melalui kekayaan atau pendapatan. Dilihat sebagai  relasional, kelas sosial mengacu pada hubungan antara orang-orang yang didasarkan pada hubungan mereka dengan dasar pada produksi dan reproduksi sosia. Yang ketiga, William mencatat adanya formasi untuk alasan historis  dan ada kesadaran untuk menangani hal-hal yang dikembangkan oleh situasi  dan organisasi. Kelas eksis ketika orang-orang sadar dan bertindak sesuai posisi kelas mereka.

Ekonomi politik komunikasi terutama dalam perspektif kategorial, mencoba mengeksplorasi kepentingan kelas yang berkuasa. Mencakup studi mendemonstrasikan bagaimana elit  media memproduksi dan mereproduksi mereka atas komunikasi bisnis. Studi ini memberikan kontribusi untuk memahami struktur dan proses dari aturan elit.

 
0

HOW TO WIN FRIENDS

Posted by made adnyani on Maret 24, 2012 in Komunikasi Antar Pribadi

HOW TO WIN FRIENDS

Do you belong to the group of people who find it hard to make new friends? Whether you do or do not, you still need to know what make people like you and want to be your friend. Dale Carnegie, author of “How to win Friends and Influence People” has suggested six points that you should practice when dealing with other people.

1. Be interested in them

Have you ever seen a dog waiting for its master and jump up on his lap wagging its tail happily? That is true affection. And this warm feeling shown by the animal makes people want to keep a dog. In the same way, you should show your warm and feeling towards other people. Make them feel that you are interested in whatever they feel, think and do.

2. Smile

A smile is magic. It can melt an iceberg if done properly. Smile when you meet the people you know or the people you are going to have contact with. Always smile in such a way that it reflects that phrases “I Like You”, “You Make Me Happy”, or “I am Glad to See You”.

3.  Remember names

A person’s name is to that person the sweetest and most important sound in any language. Therefore, always try to remember names; concentrate hard when introduces to somebody, repeat and fix his name in your mind. If you meet him again use his name, in a friendly way.

4. Be a good listener

It doesn’t mean that you have to listen all the time without anything in a conversation, but means you have to encourage others to talk more about themselves. People want to be listened to and they are more interested in themselves and their wants and problems. Listen even their complaints about a rotten tooth, for it means more to them than anything.

5. Talk in terms of their interest

Have you ever heard Franklin D. Roosevelt? When expecting a visitor, he prepared by reading up on the subject in which he knew his guests was particularly interested. In so doing, he could talk about what his visitor treasured most. Roosevelt was well known not only for his positions as President of USA but also as a man who had a wide range of knowledge and as a good conversationalist.

6. Make them feel important

This is not an easy job but not an imposible one either. Make them feel important sincerely. Do not expect to get some thing out of it. Simply make them happy. In any situations try not to be rude and always be polite. Have the habbit of saying “I am sorry to trouble you….”, “Would you be as so kind as to…..” or “Thank You”.

Ask yourself if you do these things. If you don’t, then apply them in your daily life, according to Mr. Carnegie you will be popular with lots of friends and be successful in life. Always keep in mind the saying ”people need people”.

 
0

Aplikasi Teori Dramaturgi dalam Film The Ugly Truth

Posted by made adnyani on Februari 23, 2012 in Sosiologi Media

Pendahuluan

Jika Anda penyuka jenis novel chicklit, maka The Ugly Truth merupakan pilihan film yang tepat untuk ditonton. Pasalnya, dalam film ini penggambaran tokoh utamanya, Abby Richter, sangat cocok dengan tokoh-tokoh yang biasanya diumbar dalam chicklit. Cantik, menarik, memiliki karir yang bagus, mandiri, namun tak beruntung dalam kisah cinta.

Abby Richter (Katherine Heigl), seorang produser televisi, memiliki semua kriteria yang bisa membuat pria manapun jatuh cinta. Namun entah mengapa, sudah 11 bulan ia menjomblo. Abby yang perfeksionis dalam bekerja, ternyata kerap membawa keperfeksionisannya dalam hubungan lawan jenis. Misalnya seperti yang digambarkan opening scene, Abby berkencan dengan seorang pria di sebuah restoran mewah. Sebelum berkencan, asisten Abby sudah membawakan `bekal` berupa aneka catatan tentang pria tersebut. Bahkan ia sampai menyiapkan daftar topik-topik pembicaraan jika mereka tak lagi menemukan bahan pembicaraan. Abby juga memiliki 10 kriteria yang harus terpenuhi dari seorang lelaki. Jika ada 1 yang tak cocok, maka pria itu akan dicoret namanya. Terdengar menyeramkan ya?

Sampai suatu saat Abby harus bekerjasama dengan Mike Chadaway (Gerard Butler), seorang pria playboy dan slenge`an yang terkenal lewat acaranya bertajuk `The Ugly Truth`. Dimana di program ini Mike sangat sinis terhadap cinta atau komitmen dalam hubungan lawan jenis. Sangat berbanding terbalik dengan Abby tentunya yang selalu memimpikan akan hubungan cinta yang romantis dan manis. Lalu bagaimana mereka berdua akhirnya bisa bersatu? Lika liku musuh – teman kerja – sahabat lalu jatuh cinta inilah yang menarik untuk disimak.

Kisahnya memang relatif bisa ditebak, akan berujung pada happy ending. Namun, alur yang dibuat sang sutradara Robert Luketic yang dikenal lewat karyanya Legally Blonde (2001) atau Win a Date With Ted Hamilton (2004) sungguh pandai membuat film ini menarik. Bumbu-bumbu komedi di film ini juga tidak berkesan `cheesy` alias murahan.

Dramaturgi dalam Film The Ugly Truth
Film ini menarik diikuti karena mengandung aspek-aspek yang memenuhi naluri kita sebagai khalayak media, yang salah satunya adalah drama. Dari perspektif ilmiah misalnya, pendekatan dramaturgi dari sosiolog Amerika Erving Goffman (1959) sangat potensial untuk menganalisis cerita film The Ugly Truth. Goffman adalah penafsir brilian teori interaksi simbolik George Herbert Mead (1934). Sebagaimana Mead, Goffman sangat menekankan makna sosial dari (konsep) diri karena individu mengambil peran orang lain dan bergantung pada orang lain untuk melengkapkan citra-diri tersebut. Namun, kontras dengan diri Mead yang stabil dan sinambung selagi membentuk dan dibentuk masyarakat secara jangka panjang, diri Goffman bersifat situasional karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial berbeda dalam episode-episode pendek.

Menurut Goffman, kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayah depan” (front region/stage) dan “wilayah belakang” (back region/stage). Wilayah depan adalah tempat atau peristiwa sosial yang memungkinkan individu atau suatu tim menampilkan peran formal atau bergaya, bak memainkan suatu peran di atas panggung sandiwara. Sebaliknya, wilayah belakang adalah tempat atau peristiwa yang memungkinkan mereka mempersiapkan peran di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung depan (front stage) yang ditonton khalayak, sedangkan wilayah belakang ibarat panggung belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan.

Dramaturgi diperkenalkan pada 1945 Tahun dimana, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978).

Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959: The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman (11 Juni 1922 – 19 November 1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.

Menggunakan pandangan Goffman, kebanyakan atribut, milik (rumah dan perabotannya, mobil, busana), dan perilaku manusia digunakan untuk presentasi diri, termasuk cara berjalan dan berbicara, pekerjaan dan cara menghabiskan waktu luang, untuk memberi tahu orang lain siapa kita dan mengendalikan pengaruh yang akan ditimbulkan busana, penampilan, dan kebiasaan kita terhadap orang lain supaya orang lain memandang kita sebagai orang atau tim yang ingin kita tunjukkan.

Dalam kebanyakan kasus, pelaku dan khalayak mencapai apa yang Goffman sebut “konsensus kerja” (working consensus) mengenai definisi atas satu sama lain dan situasi yang kemudian membimbing interaksi mereka. Seperti aktor panggung, aktor sosial membawakan peran, mengasumsikan karakter, dan bermain melalui adegan-adegan ketika terlibat dalam interaksi dengan orang lain. Meskipun Goffman mengakui bahwa drama kehidupan sosial sehari-hari lebih penting daripada produksi teater bagi mereka yang melaksanakan dan menyaksikannya, Goffman menunjukkan bahwa kedua jenis drama tersebut menggunakan teknik yang sama, aktor sosial seperti aktor teater bergantung pada busana, make up, pembawaan diri, dialek, pernak-pernik, dan alat dramatik lainnya untuk memproduksi pengalaman dan pemahaman realitas yang sama.

Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan.

Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton.

Dalam film ini kita bisa melihat bagaimana untuk mendapatkan cinta dari seorang dokter yang  menjadi tetanggga barunya, dengan bimbingan Mike yang ahli dalam urusan percintaan mencoba untuk memainkan frontstage sebaik mungkin dengan backstagenya. Ketika apa-apa yang tidak disukainya justru harus dimainkan dalam mendapatkan cintanya, ternyata itu sangat menyiksa. Sehingga ketika Abby berhasil mendapatkan cinta dokter itu, justru kehampaan yang dirasakannya karena sesungguhnya dia menyadari bahwa yang disukai itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Apalagi ketika dia menanyakan kenapa pria itu mencintainya justru yang disebutkan adalah sesuatu yang menjadi backstage bagi Abby. Akhirnya Abby memutuskan untuk meninggalkan sang dokter pujaannya, dan akhirnya dia memilih untuk mendapatkan cinta Mike setelah dia sadar bahwa Mike pun ternyata mencintai dia sebagaimana adanya dia. Dan happy endinglah keseluruhan cerita ini.

Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.

Goffman sebenarnya secara intrinsik menekankan karakter yang kooperatif dan moral interaksi manusia. Ia menunjukkan bahwa pertunjukan timbal balik menciptakan aturan-aturan yang secara timbal balik diterima yang membentuk basis interaksi sosial yang tertib. Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa semua perilaku manusia adalah berpura-pura, tidak jujur atau untuk menipu.

Dengan kata lain, tidak semua presentasi diri adalah misrepresentasi diri, orang ingin dan dapat menunjukkan siapa dirinya sebagaimana ia ingin dan dapat menyembunyikannya. Pemainan yang menipu, penipuan, sinisme, dan pengkhianatan memang dilakukan melalui dramaturgi, tetapi begitu juga cinta, kebenaran, ketulusan, dan keotentikan (Brissett dan Edgley, 1990). Bagaimana orang tahu bahwa kita orang yang ramah kecuali memang kita harus bersikap ramah baik secara verbal ataupun nonverbal, yang memungkinkan orang lain mendefinisikan siapa kita.

Teori dramaturgi Erving Goffman sebenarnya tidak baru sama sekali. Empat belas abad lalu Allah SWT juga telah mengingatkan lewat Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa kehidupan di dunia ini adalah panggung sandiwara, meskipun Ia menggunakan istilah-istilah lain, misalnya, “Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan tipuan.” (Ali-Imran: 185), “Sungguh, kehidupan di dunia hanyalah permainan dan kegembiraan sia-sia. Tetapi jika kamu beriman dan menjaga diri dari kejahatan. Akan diberi-Nya kamu pahalamu.” (Muhammad: 47), dan “Kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit.” (Ar-Rad: 26).

 
0

KOMODIFIKASI: CONTENT, AUDIENCE and LABOR

Posted by made adnyani on Februari 16, 2012 in Sosiologi Media

Pada tulisan kali ini saya akan mencoba untuk membahas mengenai Komodifikasi yang merupakan bagian dari kuliah sosiologi media.  Gagasan komodifikasi di bab 7 dari buku Vincent Mosco ini membahas 3 point utama yaitu konten, audiens, dan tenaga kerja atau buruh. Sebetulnya tidak beda jauh dengan proses komunikasi yaitu proses pengiriman pesan dari sender kepada receiver, dan dia mengembangkan sendiri skema komodifikasi ke dalam proses yang hampir sama dengan proses komunikasi, yaitu :
Media Labor —  message conten —– audience
Apa itu komodifikasi ?

Komodifikasi menurut Vincent Mosco digambarkan sebagai cara kapitalisme dengan membawa akumulasi tujuan kapitalnya atau mudahnya dapat digambarkan sebagai sebuah perubahan nilai fungsi atau guna menjadi sebuah nilai tukar.
Ada 2 dimensi dari hubungan komodifikasi dalam komunikasi.
1.    Proses komunikasi dan teknologi berkontribusi pada proses umum dari komodifikasi dalam ekonomi secara keseluruhan.
2.    Proses komodifikasi pada kerja dalam masyarakat sebagai keseluruhan penetrasi proses komunikasi dan lembaga, sehingga perkembangan dan pertentangan dalam proses komodifikasi mempengaruhi komunikasi sebagai praktek sosial.

Proses komodifikasi erat kaiannya dengan produks, sedangkan proses produksi erat dengan fungsi atau guna pekerjanya, pekerja telah menjadi komoditas dan telah dikomodifikasikan oleh pemilik modal. Yaitu dengan mengeskploitasi mereka dalam pekerjaannya. Hal ini hanya satu bagian saja dari proses produksi. Maka dari itu komodifikasi tak lain juga sebuahbentuk komersialisasi segala bentuk nilai dari dan buatan manusia.

Bentuk Komoditas dalam Komunikasi
1. komodifikasi konten atau isi media komunikasi.
Banyak contoh yang dapat kita ambil dan lihat dari media-media di Indonesia. Konten media dibuat sedemikian rupa sehingga agar benar-benar menjadi kesukaan publik meski hal itu bukanlah fakta dan kebutuhan publik. Pengesahan segala cara  dilakukan demi mendapat perhatian audiens yang tinggi.
2. komodifikasi audiens
Kenapa hal ini dapat terjadi? Audiens dijadikan komoditi para media untuk mendapatkan iklan dan pemasukan. Kasarnya media biasanya menjual rating atau share kepada advertiser untuk dapat menggunakan air time atau waktu tayang.
3. Komodifikasi pekerja

Seperti yang sudah digambarkan sebelumnya, pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi. Bukan hanya produksi sebenarnya, tapi juga distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengkonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkannya jika bekerja dalam sebuah institusi media massa, walaupun dengan upah yang tak seharusnya.
Lebih jauh Mosco mengemukakan bahwa di samping ketiga hal tersebut di atas, juga ada komodifikasi yang lain yang perlu untuk diperhatikan, yaitu :
Komodifikasi imanen
Bagaimana sebuah iklan yang membeli air time atau ruang dalam sebuah media massa kemudian mereka mendapat peningkatan keuntungan dari iklan-iklan yang mereka pasang pada media massa. Perputaran uang-uang hasil dari berbagai transaksi yang berhubungan proses komunikasi antara media dan khalayaknya maka dianggap juga sebagai hasil proses komodifikasi.Dalam hal ini, rating atau share adalah sebuah komoditi yang penting yang juga menghubungkan advertiser, pemilik perusahaan dan audiens yang juga sebagai konsumen dari produk-produk mereka. Maka rating menjadi sangat penting, bukan hanya untuk komoditas media tapi juga telah menjadi bagian dari tahapan-tahapan perkembangan komodifikasi komunikasi.
Komodifikasi yang diperluas
Komodifikasi yang diperluas terjadi ketika  bagaimana nilai-nilai yang telah dikomodifikasikan pada khalayak dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Kemudian perubahan-perubahan dari kepercayaan masyarakat terhadap sponsorship yang bersifat private atau swasta untuk tempat atau layanan publik. Lalu penggunaan taman-taman atau tempat hiburan umum yang lebih sepi dari pada shopping mall. Dikatakan juga bahwa komodifikasi dalam ekonomi politik bukan mengenai kekuatan tapi hegemoni.
Sumber : Mosco, Vincent 2ed. The Political Economy of Communication.

 
0

PENDEKATAN PENELITIAN

Posted by made adnyani on Februari 16, 2012 in Metodologi Penelitian Komunikasi

Pendekatan Penelitian adalah seperangkat asumsi yang saling berkorelasi satu dengan yang lain mengenai fenomena alam semesta. Dan pada dasarnya ada 3 (tiga) pendekatan penelitian yang selama ini  digunakan dalam penelitian ilmiah yaitu Penelitian Kualitatif, Penelitian Kuantitatif, dan Penelitian Trianggulasi yang merupakan penggabungan dari Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif.

Dibawah ini akan saya uraikan sedikit mengenai Pendekatan Penelitian Kualitatif dan Pendekatan Penelitian Kuantitatif, dengan memahami hal ini maka saya rasa anda akan lebih mudah untuk mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan Pendekatan Penelitian Trianggulasi.

Penelitian kuantitatif dipandang sebagai sesuatu yang bersifat konfirmasi dan deduktif, sedangkan penelitian kualitatif bersifat eksploratoris dan induktif. Bersifat konfirmasi disebabkan karena metode penelitian kuantitatif ini bersifat menguji hipotesis dari suatu teori yang telah ada. Penelitian bersifat mengkonfirmasi antara teori dengan kenyataan yang ada dengan mendasarkan pada data ilmiah dalam bentuk angka atau numerik, sehingga Penelitian Kuantitatif diidentikkan dengan Penelitian numerik. Penarikan kesimpulan pada penelitian Kuantitatif bersifat deduktif yaitu menarik kesimpulan dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang bersifat khusus. Hal ini berangkat dari teori-teori yang membangunnya.

Sedangkan Penelitian Kualitatif bersifat eksploratoris karena berusaha mengeksplorasi terhadap suatu permasalahan walaupun dengan sedikit informan. Cara yang paling praktis dilakukan adalah dengan melakukan in-depth interview maupun dengan proses Focus Group Discussion (FGD). Logika dalam penarikan kesimpulan penelitian kualitatif dilakukan dengan menggunakan logikan induktif yaitu berangkat dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menuju ke hal-hal yang bersifat umum berdasarkan informasi-informasi yang membangunnya kemudian dikelaskan ke dalam suatu konsep.

Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels

Quantitative Qualitative Authors
Rasionallistic Naturalistic Guba &Lincoln (1982)
Inquiry from the Outside Inquiry from the inside Evered & Louis (1981)
functionalist Interpretative Burrel & Morgan (1979)
Positivist Constructivist Guba (1990)
Positivist Naturalistic-ethnographic Hoshmand (1989)

Sumber : Julia Brannen (Ed): 1997 : 58)

Berdasarkan Williams (1988) maka ada lima pandangan dasar perbedaan antara pendekatan kuantitatif (istilah Williams dengan kuantitatif positivistik) dan kualitatif. Kelima dasar pandangan tersebut ialah sifat realitas, interaksi peneliti dan obyek penelitiannya, posibilitas generalisasi dan posibilitas kausal dan peranan nilai.

1. Pada dasar pandangan sifat realitas, maka pendekatan kuantitatif melihat realitas sebagai tunggal, konkrit, teramati, dan dapat difragmentasi. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat realitas ganda (majemuk), hasil konstruksi dalam pengertian holistik. Itulah sebabnya peneliti kuantitatif lebih spesifik, percaya langsung pada sang obyek generalis, meragukan dan mencari fenomena selanjutnya pada sang obyek realitas.

2. Pada dasar pandangan interaksi antara peneliti dengan obyek penelitiannya, maka pendekatan kuantitatif melihat sebagai independen, dualistik bahkan mekanistik. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat sebagai proses interaktif, tidak terpisahkan bahkan partisipatif. Itulah sebabnya penelitian kuantitatif agak memisahkan antara si peneliti sebagai subyek pelaku aktif dan obyek penelitian sebagai obyek pelaku pasif dan dapat dibebani aneka model penelitian oleh si peneliti. Sebaliknya dalam pendekatan kualitatif ada substitusi situasi dan mutual experience, bersama-sama di suatu medan (arena) nan tak terpisahkan yang sangat mutual dan tumpang tindih. Terasa sekali kuantitatif melontarkan subyek atas obyek yang saling terpisahkan, meneliti tentang sesuatu. Sebaliknya kualitatif melontarkan obyek atas obyek, yang tak terpisahkan, meneliti menembus di dalam sesuatu. Dengan perkataan lain, pendekatan kuantitatif to solve the problem by surrounding the problem. Sebaliknya pendekatan kualitatif to solve the problem by penetrating the problem.

3. Pada dasar pandangan posibilitas generalis, maka pendekatan kuantitatif bebas dari ikatan konteks dan waktu (nomothetic statements), sedang pendekatan kualitatif terikat dari ikatan konteks dan waktu (idiographic statements). Itulah sebabnya peneliti kuantitatif dapat dikenai atau dibebani dengan percobaan tertentu, lalu diukur hasilnya (ada macam-macam jenis eksperimen). Sebaliknya peneliti kualitatif lebih menerjunkan diri dalam riak gelombang gejolak obyek penelitian dan terbenam di dalamnya. Ini agar dia menjadi mengerti, memahami, dan menghayati (verstehen) pada obyek penelitiannya.

4. Pada dasar pandangan posibilitas kausal, maka pendekatan kuantitatif selalu memisahkan antara sebab riil temporal simultan yang mendahuluinya sebelum akhirnya melahirkan akibat-akibatnya. Sebaliknya pendekatan kualitatif selalu mustahilkan usaha memisahkan sebab dengan akibat, apalagi secara simultan. Sebab dan akibat adalah nebula yang Pantha Rhei (mengalir kontinyu terus menerus). Itulah sebabnya pendekatan kuantitatif selalu on line process, satu arah, mulai dari awal sebab, proses, dan akhirnya akibat. Sebaliknya pendekatan kualitatif selalu on cyclus process, kontinyu dan banyak arah, suatu interaksi yang dipetakan dan masing-masing berupa sebab dan akibat sebagai kutub-kutubnya. Proses sebab akibat adalah suatu kelanjutan dari proses sistem model atau paradigma tertentu.

5. Pada dasar pandangan peranan nilai, maka pendekatan kuantitatif melihat segala sesuatu bebas nilai, obyektif dan harus seperti apa adanya. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat segala sesuatu tidak pernah bebas nilai, termasuk si peneliti sendiri yang subyektif. Itulah sebabnya penelitian kuantitatif selalu mengaku bahwa penelitian yang terbaik ialah yang obyektif, jujur, netral, dan apa adanya, dan yang terpenting kebal terhadap nilai-nilai di sekitar suatu obyek penelitian. Penelitian kualitatif memustahilkan hal ini. Hasil pengamatan jenis penelitian, analisa datang dan sekalian hasil penelitian tidak lepas (konstektual) dengan era, geografi, budaya dan aliran-aliran nilai yang berpengaruh di situ. Peranan nilai hendak dilihat dengan totalitas eksistensialnya.

Referensi :

Brannen, Julia, Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, 1997. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Williams, D.C. 1988. Naturalistic Inquiry Materials, FPS IKIP Bandung.

Tag:

 
0

Seminar Nasional Cyber

Posted by made adnyani on Februari 13, 2012 in Aktivitas Fikom

Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Menyiapkan Generasi Khaira Ummah yang Kreatif & Komunikatif di Era Cyber”, Selasa pagi (28/6). Kegiatan ini diadakan di Aula Lantai 2 Gedung Cyber Library Unissula Semarang.

Sekitar 70 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar dan umum ini, terlihat antusias dan menikmati materi-materi seminar yang di sajikan oleh pembicara yang hadir pagi itu. Adapun pembicaranya yaitu Pemred Suara Merdeka CyberNews Setiawan Hendra Kelana serta Head of Binus TV Donny de Kaizer.

Dalam kesempatan tersebut, Setiawan Hendra Kelana menerangkan bahwa, saat ini era cyber yang lebih dikaitkan dengan dunia digital atau dunia maya ini telah menggeser keberadaan era konvensional. Menurutnya, era konvensional adalah era dimana informasi disajikan melalui media-media konvensional, seperti Televisi, Radio, Surat Kabar dan lain-lain.

Sementara itu Donny de Kaizer juga memberikan materi tentang bagaimana menyikapi    perkembangan era cyber kini yang semakin pesat. Dia juga menambahkan, bagaimana cara mempergunakan internet sebaik mungkin, dan juga peluang-peluang apa saja yang bisa didapat dari perkembangan dunia maya.

Ketua panitia seminar Made Dwi Adnjani mengatakan, tujuan diadakan seminar ini adalah untuk menyiapkan generasi Khaira Ummah yang bijaksana dalam memilih dan menentukan informasi yang kini banyak masuk dari internet. Dia juga berharap dengan seminar ini, generasi selanjutnya  dapat mengantisipasi dampak-dampak dari internet, karena mau tidak mau, era cyber pasti akan ditemui. Bagaimana mengatasi dampak negatif dari tayangan acara TV menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Dan dengan kreativitas dan cerdas maka nantinya diharapkan bisa memilih dan memproduksi tayangan yang memiliki nilai jual tetapi tetap mengedepankan norma dan etika tayangan,

Dalam kesempatan tersebut, Reporter Suara Remaja CyberNews Adip juga memperkenalkan kanal CyberNews yaitu Suara Remaja. Kanal ini memberikan informasi apa saja tentang remaja.

Sumber : http://www.suaramerdeka.tv/view/video/30295/membangun-generasi-khaira-ummah-di-era-cyber

 
0

Kunjungan ke Voice of Vietnam

Posted by made adnyani on Februari 13, 2012 in Aktivitas Fikom

Kunjungan ke VOV

Rombongan Indonesia yang difasilitasi oleh KBRI di Vietnam mengunjungi Voice of Vietnam channel 5 di Jalan Ba Trieu 45 Hanoi pada tanggal 24 Mei 2011. Rombongan  terdiri dari Direktur Utama RRI Niken, Parni Hadi selaku founders dan mantan Dirut RRI,  Masduki dari Direktur Program dan Siaran,  Made Dwi Adnjani dari Fakultas Ilmu Komunikasi Unissula, dan Datuk Adila Direktur Institute Radio Television Tun Abdul Razak Malaysia didampingi oleh I Nyoman Gernitha dari KBRI.

Kunjungan itu dilakukan dalam rangka penyiapan kerjasama antara Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia dengan Voice of Vietnam. Rombongan ditemui oleh Wakil Direktur VOV Channel 5 staff bidang program penyiaran dan beberapa penyiar. Dalam sambutannya Ibu Lan demikian sapaan akrab dari Wakil Direktur VOV Channel 5 menyatakan  menyambut baik rencana kerjasama ini dan kerjasama ini memang sudah ditunggu sejak lama.

Channel 5 adalah radio Vietnam yang mengudara di saluran SW dan FM untuk siaran berbahasa asing, salah satunya dengan bahasa Indonesia dari jam 6 – 8.30, pukul 12.00-18.00. Siaran bahasa Indonesia di Vietnam sudah mengudara sejak 1966. Rata-rata penyiar radio tersebut mampu berbahasa Indonesia. Salah seorang penyiar, Pa Chung pernah menjadi mahasiswa sastra Indonesia di salah satu universitas swasta di  Bogor, dan penyiar lainnya belajar bahasa Indonesia di Jakarta selama satu semester. Oleh karena itu mereka berharap untuk dapat melaksanakan kerjasama dengan RRI maupun dengan Universitas di Indonesia agar nantinya penyiar-penyiar Channel 5 bisa belajar bahasa Indonesia dengan lebih baik, karena selama ini mereka belajar bahasa Indonesia secara otodidak. Jangkauan siaran VOV cukup luas selain di seluruh wilayah Vietnam, juga ternyata bisa didengar secara jernih di Kalimantan dan Sumatera. Dari ratusan surat penggemar setiap tahunnya, mereka bisa mengetahui ternyata banyak juga audience dari Indonesia yang ikut mendengarkan siaran VOV channel 5.

Sementara Direktur RRI menyatakan bangga bahwa bahasa Indonesia ternyata dipakai sebagai bahasa siaran di Vietnam, dan nantinya RRI akan menindaklanjuti dengan mendatangkan trainer dari RRI atau sebaliknya penyiar-penyiar VOV channel 5 yang diminta untuk mengikuti pelatihan di Indonesia. Pada kesempatan itu pula Direktur RRI diminta untuk mengisi siaran secara live di studio broadcasting VOV channel 5.

Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/05/28/147991/Unissula-Siap-Berperan-di-Asia-Media-Summit-2013

 
0

MC Harus Siap Menghadapi Perubahan Mendadak

Posted by made adnyani on Februari 13, 2012 in MC

Semarang, CyberNews. Seorang master ceremony (MC) harus siap menghadapi perubahan keadaan mendadak di luar dugaan yang tidak mengenakkan. Kalau tidak, bisa-bisa seorang MC menjadi kikuk dalam bertugas, dan memberi kesan tidak enak bagi audiens.
Pernah terjadi karena perubahan dadakan karena cuaca, mengharuskan MC menjalankan perannya di udara terbuka dan angin keras. Akibatnya MC yang perempuan itu sambil memegangi mike, tangan yang lain sesekali membenarkan roknya yang pendek agar tak terlalu tersibak angin.
Pengalaman yang tidak mengenakkan MC tersebut diungkap oleh Made Dwi Adnyani, S Sos, M Si sebagai nara sumber pelatihan MC yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Undip, Jumat (17/6) di Fakultas Hukum Pleburan. Peserta sebanyak 33 orang dari perwakilan 10 fakultas, termasuk Ny Any Sudharto, S Sos, istri rektor yang sebelumnya membuka acara tersebut secara resmi.
Ditambahkan oleh Made Dwi Adnyani, dosen Fakultas Komunikasi Unissula dan presenter TVRI tersebut, seorang MC harus mampu membaca situasi, menciptakan suasana sesuai dengan karakteristik acara dan memungkinkan untuk berdialog dengan audiens.
Untuk itu diperlukan orang yang ekstrove, yaitu orang yang suka mengekpresikan apa yang dipikirkan, dirasakan pada orang lain. “Pendek kata adalah orang suka memperbincangkan berbagai hal dengan orang lain secara terbuka,” kata Made.
Karena merupakan keterampilan, maka siapa pun bisa menjadi MC asal mau selalu berlatih meningkatkan diri, serta mempunyai kriteria tertentu. “Seorang MC perlu berpengetahuan luas, cerdas, memiliki rasa humor, sabar, mampu berimajinasi, penuh antusiasme, rendah hati dan bersahabat, serta pandai bekerja sama,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan progam seksi pendidikan untuk meningkatkan kualitas anggota, seperti dikatakan Ir Yani Sarwadi, ketua panitia.

sumber :

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/06/17/88632/MC-Harus-Siap-Menghadapi-Perubahan-Mendadak

Tag:

Copyright © 2012 blognya made All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.8.5 theme from BuyNowShop.com.